all about me

Minggu, 05 Desember 2010

FLAGELLATA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan Protozoa kurang jelas perbedaannya. Beberapa organisme mempunyai sifat antara algae dan protozoa. Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk berfotosintesis. Semua spesies Euglenophyta mampu hidup pada nutrien kompleks tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuwan memasukkannya ke dalam filum Protozoa. Contonya strain mutan algae genus Chlamydomonas yang tidak berklorofil, dapat dimasukkan ke dalam kelas Protozoa genus Polytoma. Hal ini merupakan contoh bagaimana sulitnya membedakan dengan jelas antara algae dan protozoa. Protozoa dibedakan dari prokariot karena ukurannya yang lebih besar, dan selnya eukariotik. Protozoa dibedakan dari algae karena tidak berklorofil, dibedakan dari jamur karena dapat bergerak aktif dan tidak berdinding sel, serta dibedakan dari jamur lendir karena tidak dapat membentuk badan buah (wase).

Berdasarkan struktur tubuh dan alat geraknya, phylum Protozoa dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu Rhizopoda, Ciliata, Flagellata dan Sporozoa. Flagellata (Mastigophora), bergerak dengan flagel (bulu cambuk) yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk menangkap makanan. Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

Ø Fitoflagellata. Flagellata autotrofik (berkloroplas), dapat berfotosintesis. Contohnya: Euglena viridis, Noctiluca milliaris, Volvox globator.

Ø Zooflagellata. Flagellata heterotrofik (tidak berkloroplas). Contohnya: Trypanosoma gambiens, dan Leishmania.


Secara umum Flagellata memiliki daur hidup dalam bentuk trofozoit dan kista. Berkembang biak dengan cara vegetatif berupa pembelahan biner dan cara generatif berupa konjugasi. Flagellata hidup secara soliter atau bentuk koloni. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang. Inang protozoa yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies dapat tumbuh di dalam tanah atau pada permukaan tumbuh-tumbuhan.

Beberapa spesies Flagellata memiliki peran yang penting dalam ekosistem air, yaitu sebagai fiplankton dan zooplankton. Oleh karena itu, untuk lebih mendalami mengenai Flagellata, diperlukan kajian lebih mendalam mengenai beberapa aspek yang meliputi morfogenesis, habitat, fisiologis, daur hidup, reproduksi dan peranan Flagellata, sehingga diharapkan akan muncul penelitian lanjutan mengenai Flagellata dan usaha pemanfaatannya untuk masa yang akan datang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:

a) Bagaimana klasifikasi dari Flagellata (Mastigophora)?

b) Bagaimana morfogenesis dari Flagellata (Mastigophora)?

c) Bagaimana fisiologi dari Flagellata (Mastigophora)?

d) Dimanakah habitat dari Flagellata (Mastigophora)?

e) Bagaimana cara reproduksi dan daur hidup dari Flagellata (Mastigophora)

f) Apakah peranan Flagellata (Mastigophora)?

C. Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan pembahasan adalah sebagai berikut:

a) Untuk mengetahui klasifikasi dari Flagellata (Mastigophora).

b) Untuk mengetahui morfogenesis dari Flagellata (Mastigophora).

c) Untuk mengetahui fisiologi dari Flagellata (Mastigophora).

d) Untuk mengetahui habitat dari Flagellata (Mastigophora).

e) Untuk mengetahui cara reproduksi dan daur hidup dari Flagellata (Mastigophora)

f) Untuk mengetahui peranan Flagellata (Mastigophora).


D. Manfaat

Kajian mengenai Flagellata ini memiliki banyak manfaat bagi semua pihak yang membaca, antara lain:

a) Bagi mahasiswa, yaitu menambah wawasan dan pengetahuan mengenai Flagellata. Memperdalam pemahaman mengenai Flagellata yang meliputi klasifikasi Flagellata, morfologi, fisiologi, habitat, reproduksi, daur hidup dan peranan Flagellata. Mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian tentang Flagellata karena protozoa ini unik dan merupakan bentuk peralihan antara hewan dan tumbuhan.

b) Bagi masyarakat, yaitu menambah pengetahuan tentang hewan yang berukuran mikro tetapi memiliki peranan vital di lingkungan perairan. Bagi peternak ikan, pengetahuan mengenai Flagellata ini sangat bermanfaat karena banyak spesies Flagellata yang dapat digunakan sebagai pakan alami ikan maupun udang. Selain itu, Flagellata dapat digunakan sebagai sumber Protein Sel Tunggal (PST), misalnya Euglena viridis dan Euglena oxyuris.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Klasifikasi Flagellata

Flagellata (dalam bahasa Latin diambil dari kata “flagell” yang berarti cambuk) atau Mastigophora (dari bahasa Yunani,”mastig” yang berarti cambuk, dan “phora” yang berarti gerakan), dalam taksonomi kuno Flagellata merupakan salah satu kelas dalam filum protozoa atau protista yang mirip hewan, namun dalam taksonomi modern menjadi superkelas yang dibagi menjadi dua kelas, yaitu fitoflagelata dan zooflagelata.

Alat gerak Flagellata adalah flagellum atau cambuk getar, yang juga merupakan ciri khasnya, sehingga disebut Flagellata (flagellum = cambuk). Letak flagel berada pada ujung depan sel (anterior), sehingga saat bergerak seperti mendorong sel tubuhnya, namun ada juga letak flagel di bagian belakang sel (posterior). Selain berfungsi sebagai alat gerak, flagela juga dapat digunakan untuk mengetahui keadaan lingkungannya atau dapat juga digunakan sebagai alat indera karena mengandung sel-sel reseptor di permukaan flagel dan alat bantu untuk menangkap makanan (Haeckel’s, 1904).

Dilihat dari bentuknya, Flagellata dikelompokkan menjadi dua, yaitu berbentuk seperti tumbuhan yang dinamakan Fitoflagellata, dan yang berbentuk seperti hewan yang dinamakan Zooflagellata.

1) Fitoflagellata

Fitoflagelata adalah flagellata yang mirip dengan tumbuhan karena memiliki kromotafora, sehingga dapat melakukan fotosintesis (fotosintetik). Fitoflagellata mencernakan makananya dengan berbagai cara, menelan lalu mencernakan didalam tubuhnya (holozoik), membuat sendiri makanannya (holofitrik), atau mencernakan organisme yang sudah mati (saprofitik). Habitat fitoflagellata adalah diperairan bersih dan diperairan kotor. Fitoflagellata bergerak menggunakan flagella (Lupita, 2009).

Fitoflagellata diklasifikasikan menjadi 3 kelas, yaitu:

Ø Euglenoida

Tubuhnya menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel. Contoh dari kelas Euglenoida yaitu Euglena viridis. Euglena viridis memiliki ciri – ciri, ukuran tubuhnya antara 35–60 mikron, ujung tubuhnya berbentuk meruncing dengan satu bulu cambuk di bagian anterior sel. Euglena viridis memiliki stigma (bintik mata berwarna merah) yang berfungsi untuk membedakan antara gelap dan terang. Menurut Lupita (2009), Euglena viridis dapat bersifat holofitrik dan holozoik. Bersifat holofitrik karena memiliki kloroplas yang mengandung klorofil, sehingga dapat membuat makanannya sendiri dengan cara melakukan fotosintesis. Bersifat holozoik yaitu dengan cara memasukkan makanannnya yang berupa organisme berukuran lebih kecil melalui sitofaring menuju vakuola dan ditempat inilah makanan dicerna. Pada gambar 2. 1 ditunjukkan spesies Euglena viridis.

Gambar 2.1 Euglena viridis (Anne, tanpa tahun)

Ø Dinoflagellata

Tubuhnya berukuran besar dan biasanya hidup di habitat air laut. Contoh dari dinoflagellata antara lain Noctiluca miliaris, Cretium, dan Gymnodinium. Noctiluca miliaris kebanyakan hidup di air laut dengan ciri – ciri memiliki satu pasang flagella yang berukuran satu panjang dan satu pendek, dapat melakukan simbiosis dengan jenis ganggang tertentu. Noctiluca miliaris dapat memancarkan sinar (bioluminense) apabila tubuhnya terkena rangsangan mekanik (Anonim, 2010). Pada gambar 2.2 ditunjukkan spesies Noctiluca milliaris.

Gambar 2.2 Noctiluca milliaris (Anonim, 2010)

Ø Volvocida

Bentuk tubuh hewan ini pada umumnya berbentuk bulat dan berkoloni. Contoh dari volvocida antara lain adalah Volvox globator. Ciri – ciri dari Volvox antara lain hidup secara berkoloni, koloni Volvox dapat terdiri dari ribuan sel yang masing – masing sel memiliki dua flagella. Setiap sel memiliki inti, vakuola kontraktil, stigma dan kloroplas (Wimvan, 2003). Gambar 2.3 menunjukkan koloni Volvox hermafrodit.

Gambar 2.3 Volvox globator (Wimvan, 2003)

2) Zooflgellata

Zooflagellata adalah flagellata yang menyerupai hewan, tidak berkloroplas dan bersifat heterotrof. Flagellata ini ada yang hidup bebas, bersimbiosis dengan organisme lain, namun kebanyakan bersifat parasit pada organisme lain. Contoh zooflagelata antara lain yaitu Trypanosoma gambiens, dan Leishmania (Sutanto, dkk., 2008). Gambar 2.4 menunjukkan Trypanosoma gambiens.

Gambar 2.4 Trypanosoma gambiens (Dick, tanpa tahun)

B. Morfogenesis Flagellata

Bentuk tubuh Flagellata sangat beragam, ada yang berbentuk lonjong, menyerupai bola, memanjang, dan polimorfik (memiliki berbagai bentuk morfologi). Cara hidup ada yang soliter dan hidup secara berkoloni. Salah satu spesies Flagellata yang mudah untuk ditemukan dan diamati morfologinya yaitu Euglena viridis. Euglena viridis adalah sejenis alga bersel tunggal yang berbentuk lonjong dengan ujung anterior (depan) tumpul dan meruncing pada ujung posterior (belakang). Setiap sel Euglena dilengkapi dengan flagel yang tumbuh pada ujung anterior sebagai alat gerak. Bentuk flagela seperti cambuk. Letaknya berada pada bagian ujung anterior tubuhnya, namun ada juga flagella yang terletak di bagian posterior tubuh. Selain berfungsi sebagai alat gerak, flagella juga berfungsi untuk memperoleh makanan. Pada ujung anterior tubuh juga terdapat celah sempit yang memanjang ke arah posterior. Pada bagian posterior, celah ini melebar dan membentuk kantong cadangan atau reservoir. Flagel terbentuk di sisi reservoir (Wasetiawan, 2010). Berikut adalah gambar morfologi dari Euglena viridis.

Gambar 2.5 Struktur Morfologi Euglena viridis (Anonim, 2010)

Euglena memiliki bintik mata atau stigma yang berwarna merah. Pada stigma terdapat kumpulan pigmen yang peka terhadap rangsang berupa cahaya, sehingga bagian ini berfungsi sebagai penerima cahaya. Stigma berfungsi sebagai pengatur arah gerak aktif Euglena sebagai respon terhadap intensitas cahaya di lingkungannya (Hall, tanpa tahun).

Struktur tubuh Euglena terlindungi oleh selaput pelikel. Pada kebanyakan Euglenoida, pelikel bersifat lentur sehingga memungkinkan terjadi perubahan bentuk sel, tetapi pada beberapa jenis Euglena pelikel ini bersifat kaku, sehingga sel memiliki bentuk yang tetap.Di sebelah dalam selaput pelikel terdapat sitoplasma. Di dalam sitoplasma ini terdapat berbagai organel seperti plastida, kloroplas, nukleus, vakuola kontraktil, dan vakuola nonkontraktil. Selain pelikel, stuktur tubuh Flagellata ada yang diselubungi oleh membrane selulosa, misalnya pada Volvox (Wasetiawan, 2010).

Euglena dapat bergerak maju ke depan secara rotasi spiral dengan menggunakan flagellumnya atau merayap pada suatu dasar tanpa menggunakan flagellumnya atau secara euglenoid. Euglenoid yaitu bergerak dengan cara mengerutkan tubuh, kemudian agak membulat dan akhirnya memanjang lagi seperti semula (Lupita, 2009).

C. Fisiologi Flagellata

Pada umumnya Flagellata dan jenis Protozoa lain membutuhkan suhu optimum untuk tumbuh antara 16-25°C. Adapun pH (derajat keasaman optimum) untuk proses metabolismenya adalah antara pH 6-8. Menurut Haeckel’s (1904), flagellata memperoleh nutrisi dengan beberapa cara yang berbeda, ada flagellata yang bersifat holozoik (heterotrof), yaitu makanannya berupa organisme lain yang berukuran lebih kecil, bersifat holofilik (autotrof), yaitu dapat mensintesis makanannya sendiri dari zat organic karena memiliki kloroplas dengan bantuan cahaya. Selain itu ada yang bersifat saprofitik, yaitu menggunakan sisa bahan organic dari organisme yang telah mati dan adapula yang bersifat parasitik, misalnya pada zooflagellata dengan cara menempel pada inang untuk mendapatkan nutrisi.

Pada umumnya Flagellata bersifat aerobik fotosintetik, karena sebagian besar spesies Flagellata memiliki kloroplas, sehingga dapat menghasilkan makanannya sendiri melalui proses fotosintesis, tetapi beberapa spesies Flagellata dapat hidup pada lingkungan anaerobik, misalnya pada saluran pencernaan rayap dan di dalam tubuh inang. Flagellata aerobik mempunyai mitokondria yang mengandung enzim untuk metabolisme aerobik, dan untuk menghasilkan ATP melalui proses transfer elektron dari atom hidrogen ke oksigen (Wasetiawan, 2010). Flagellata pada umumnya mendapatkan makanan dengan cara memangsa organisme lain (bakteri) atau partikel organik, baik secara fagositosis maupun pinositosis. Oksigen dan air maupun molekul-molekul kecil dapat berdifusi melalui membran sel. Senyawa makromolekul yang tidak dapat berdifusi melalui membran, dapat masuk ke dalam sel secara pinositosis.

Pada Flagellata misalnya Euglena dan Dinoflagellata, untuk mendapatkan nutrisi dapat bersifat miksotrof (bersifat holozoik dan holofitik). Secara holozoik dengan bantuan flagella yang tidak hanya berfungsi sebagai alat gerak, melainkan juga berfungsi untuk memperoleh makanan. Gerakan flagella yang berombak-ombak menghasilkan aliran air di sekitar mulut, sehingga makanan mengumpul dan terdorong masuk kedalam mulut. Makanan yang masuk kedalam mulut bergerak melewati kerongkongan dan bermuara pada suatu tempat penampungan (reservoir). Kedalam reservoir itu bermuara beberapa vakuola kontraktil kecil. Ketika berisi makanan, vakuola makanan menjadi membesar. Lisosom memberikan enzim ke dalam vakuola makanan untuk mencernakan makanan, kemudian vakuola membesar kembali. Hasil pencernaan makanan didispersikan ke dalam sitoplasma secara pinositosis, dan sisa yang tidak tercerna dikeluarkan dari sel.

Euglena bersifat holofilik (autotrof), karena pada lapisan entoplasma terdapat kloroplas, sehingga hewan ini dapat melakukan proses fotosintesis dan menghasilkan zat tepung (amilum) (Kastawi, dkk. 2003). Menurut Haeckel’s (1904), pigmen fotosintetik yang terdapat pada Euglena terdiri atas klorofil a dan b, sehingga tampak berwarna hijau, selain itu juga terdapat karoten serta xantofil. Dalam sitoplasma disimpan karobohidrat sebagai makanan cadangan berupa butir-butir paramilum, yaitu polimer glukosa dengan ikatan B1,3. Sedangkan pada Dinoflagelata mempunyai pigmen fotosintetik berupa klorofil a dan c, karoten dan beberapa jenis mengandung xantofil. Cadangan makanan terdiri atas pati atau minyak, dinding sel tersusun

dari selulosa dan ada yang sangat keras disebut teka, tetapi ada yang tidak berdinding.

Respirasi pada Flagellata terjadi secara difusi. Oksigen yang berasal dari lingkungan dapat berdifusi masuk melalui membran sel, begitu juga dengan karbondioksida hasil pernafasan akan berdifusi keluar melalui membran sel. Menurut Haeckel’s (1904), flagellata juga memiliki alat pernapasan yang disebut stigma. Stigma ini berfungsi sebagai alat respirasi yang dilakukan untuk pembakaran hidrogen yang terkandung di dalam kornel. Oksigen digunakan untuk pelepasan energi secara aerobic. Energi digunakan untuk pengumpulan senyawa-senyawa yang dibutuhkan dalam pertumbuhan, dan perbaikan sel.

D. Habitat Flagellata

Flagellata ditemukan di lingkungan berair atau setidaknya di tempat yang basah. Sebagian besar spesies Flagellata memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. Pada umumnya Flagellata hidup bebas di lingkungan air tawar, atau genangan air di daratan, misalnya dari kelas Euglenoida dan Volvocida, namun ada juga spesies Flagellata yang hidup di lautan, misalnya pada kelas Dinoflagellata. Menurut Sutanto, dkk. (2008), sebagian besar spesies yang termasuk Zooflagellata bersifat parasitik, hidup pada organisme lain sebagai inangnya. Inang dari Zooflagellata yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa jenis Flagellata yang hidup di laut merupakan bagian dari zooplankton. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di danau, sungai, kolam, atau genangan air merupakan bagian dari phytoplankton. Ada pula Flagellata yang tidak bersifat parasit yang hidup di dalam usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia, misalnya Trichonympha dan Myxotricha yang hidup di dalam usus rayap (Anonim, 2010).

E. Reproduksi dan Daur Hidup Flagellata

E.1 Reproduksi Flagellata

Reproduksi pada Flagellata ada 2 macam, yaitu vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif terjadi dengan cara pembelahan biner secara transversal, misalnya pada Euglena, sedangkan reproduksi generatif terjadi melalui persatuan antara ovum dan spermatozoid, misalnya pada Volvox.

1) Reproduksi secara vegetatif: pembelahan biner

Pembelahan biner pada flagellata berlangsung secara longitudinal. Menurut Smith (2010), pembelahan sel dimulai dengan menduplikasi DNA-nya untuk membuat dua set lengkap. Sel terus tumbuh dan set DNA bergerak ke ujung berlawanan pada sisi sel. Setelah sel telah mencapai ukuran yang tepat, sel membagi menjadi dua sel anak dengan DNA yang identik. Fusi biner adalah cara reproduksi klasik yang digunakan ketika suatu organisme hidup dalam lingkungan yang stabil. Waktu pembelahan biner ini penting, karena organisme harus melakukannya pada saat yang tepat. Proses ini sebagian diatur oleh septum cincin, yaitu cincin protein yang terbentuk disekitar pertengahan sel. Septum cincin ini mendorong sel untuk dibagi secara merata tanpa merusak DNA atau dinding sel. Kesalahan dalam proses fusi dapat menyebabkan pembentukan sel anak dengan DNA tidak lengkap, atau salinan tambahan gen tertentu. Cincin septum dirancang untuk mencegah hal ini. Gambar 2.6 merupakan bagan skematis terjadinya pembelahan biner secara longitudinal.

Gambar 2.6 Pembelahan Biner Longitudinal (Wahyu, 2009)

2) Reproduksi secara generatif: persatuan antara ovum dan spermatozoid

Selain reproduksi secara vegetative (pembelahan biner), kelompok flagellate juga melakukan perkembangbiakan secara generatif. Reproduksi ini sangat diperlukan untuk memperkaya variasi genetic, sehingga akan meningkatkan kemampuannya untuk hidup pada kondisi lingkungan yang baru. Contoh flagellate yang memiliki proses secara generative adalah Volvox sp. Volvox merupakan kandidat protozoa yang unik untuk diteliti. Catatan penting untuk membahas Volvox adalah Volvox merupakan Flagellata yang berkoloni membentuk suatu bola. Reproduksi aseksual terjadi pada garis ekuator, sel ini berkembang menjadi “germ cell”, kelompok individu jantan dan individu betina terbentuk pada koloni yang berbeda. Sel-sel germinal betina tidak membagi, melainkan semakin membesar untuk membentuk sebuah ovum. Pada beberapa spesies koloni Volvox bersifat hermaphroditic, yaitu dalam satu koloni dapat membentuk sperma serta ovum. Namun kematangan sperma dan ovum tidak pada saat yang bersamaan, sehingga pembuahan diri (pada satu koloni) dapat dicegah (Wimvan, 2003).

Reproduksi dimulai dari koloni betina yang menggandung ovum dan koloni jantan yang mengandung sperma bertemu. Ovum dihasilkan oleh oogonium, sedangkan Volvox jantan menghasilkan spermatozoid oleh spermatogonium. Setelah terjadi fertilisasi akan menghasilkan zigot, zigot akan menghasilkan empat spora, yang kemudian akan menjadi individu baru. Pada gambar dibawah ini menunjukkan koloni Volvox jantan dengan paket sel sperma dan Volvox betina dengan ovum. Sel sperma akan menuju koloni Volvox betina untuk mencari ovum dan terjadi pembuahan.

Gambar 2.7 Koloni Volvox Jantan dan koloni Volvox Betina (Wimvan, 2003)

E. 2 Daur Hidup Flagellata

Beberapa Flagellata memiliki tahap kehidupan bolak-balik antara tahap proliferatif (misalnya trophozoites) dan kista aktif. Dalam bentuk kista, Flagellata dapat bertahan hidup kondisi yang sulit, seperti terpapar pada suhu yang ekstrem dan bahan kimia berbahaya, atau waktu lama tanpa akses terhadap nutrisi, air, atau oksigen untuk jangka waktu tertentu. Pada Zooflagellata, menjadi bentukan kista memungkinkan untuk bertahan hidup di luar tubuh inang, dan memungkinkan terjadinya transmisi dari satu host ke host yang lain. Ketika dalam bentuk trophozoites (Yunani, tropho = untuk memberi makan), mereka secara aktif mencari makan dan tumbuh. Proses dimana terjadi perubahan menjadi bentuk kista disebut encystation, sedangkan proses mentransformasikan kembali ke trophozoite disebut excystation (Hall, tanpa tahun).

F. Peranan Flagellata

Flagellata yang bersifat holozoik berperan sebagai predator, mereka memangsa organisme uniseluler atau ganggang, bakteri, dan microfungi, sehingga Flagellata memainkan peranan penting dalam mengendalikan populasi bakteri dan biomas (Wasetiawan, 2010). Flagellata yang bersifat saprofitik memainkan peran baik sebagai herbivora dan konsumen dalam tingkatan decomposer dari rantai makanan.

Sebagai komponen dari mikro-dan meiofauna, Flagellata berperan sebagai phytoplankton dan zooplankton di dalam lingkungan perairan yang berfungsi sebagai sumber pakan alami organisme lain, misalnya ikan dan udang (Redjeki, 1999). Dengan demikian, peran ekologis protozoa dalam rantai makanan komunitas akuatik sangat penting.

Menurut Lupita (2009), flagellata dapat digunakan sebagai sumber Protein Sel Tunggal (PST), misalnya Euglena viridis dan Euglena oxyuris yang saat ini mulai dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat dunia tanpa memerlukan lahan yang luas dan waktu panen yang singkat dalam jumlah besar.

Trichonympha dan Myxotricha yang hidup di dalam usus rayap dapat membantu rayap untuk mencerna kayu, karena Flagellata ini dapat menghasilkan enzim selulosa. Enzim ini membuat partikel kayu tersebut menjadi lebih lunak, sehingga dapat dicerna oleh rayap (Anonim, 2010).

BAB III

PEMBAHASAN

A. Klasifikasi Flagellata

Flagellata dalam taksonomi kuno merupakan salah satu kelas dalam filum protista mirip hewan, namun dalam taksonomi modern menjadi superkelas yang dibagi menjadi dua kelas, yaitu fitoflagelata dan zooflagelata. Flagellata bergerak dengan bantuan flagella atau cambuk getar. Flagella terletak di bagian anterior tubuh maupun di bagian posterior tubuh, sehingga ketika flagella bergerak seperti menghasilkan gerakan mendorong sel tubuh. Selain berfungsi sebagai alat gerak, flagella juga berfungsi sebagai alat indera karena di bagian permukaan flagella ditemukan sel-sel reseptor yang mampu menerima stimulus dari lingkungan sekitar. Flagella juga berfungsi sebagai alat bantu untuk memperoleh makanan, karena gerakan flagella yang bergelombang mampu menghasilkan aliran air yang mendorong makanan mengumpul dan mengarah masuk ke sitofaring.

Berdasarkan bentuknya Flagellata dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Fitoflagellata dan Zooflagelata. Fitoflagellata merupakan flagellata yang mirip tumbuhan karena memiliki persamaan dengan tumbuhan, yaitu memiliki kromatofora, sehingga flagellata ini dapat melakukan fotosintesis untuk menghasilkan makanannya sendiri (holofitik). Namun pada keadaan lingkungan yang kurang cahaya, organisme ini dapat bertahan hidup dan mendapatkan nutrisi dengan cara mencerna organisme lain (holozoik) dan menyerap materi organik dari organisme yang sudah mati (saprofitik). Fitoflagellata dibedakan lagi menjadi 3, yaitu:

a) Euglenoida, yang berbentuk seperti menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel. Contohnya yaitu Euglena viridis. Ukuran tubuh Euglena viridis antara 35–60 mikron, berbentuk lonjong dengan bagian anterior tubuh tumpul terdapat satu flagella, sedangkan bagian posterior tubuh meruncing. Euglena viridis memiliki bintik mata yang berwarna merah atau stigma dan bersifat miksotrof.

b)

15

Dinoflagellata merupakan flagellata yang berukuran besar dan biasanya hidup di laut. Flagellata ini bersifat polimorfik dengan ciri-ciri memiliki satu pasang flagella yang berukuran tidak sama. Dinoflagellata dapat bersimbiosis dengan ganggang tertentu dan dapat menghasilkan cahaya (bioluminense) apabila terkena rangsangan mekanik. Contohnya yaitu Noctiluca miliaris, Cretium, dan Gymnodinium.

c) Volvocida, pada umumnya berbentuk bulat dan berkoloni. Contohnya yaitu Volvox globator. Volvox hidup secara berkoloni, yang terdiri dari ribuan sel yang masing – masing sel memiliki satu pasang flagella yang berukuran sama. Setiap sel memiliki inti, vakuola kontraktil, stigma dan kloroplas.

Zooflagellata merupakan flagellata yang menyerupai hewan. Flagellata ini tidak berkloroplas dan bersifat heterotrof. Sebagian besar flagellata kelompok ini bersifat parasit dan menyebabkan beberapa penyakit pada inangnya, contohnya Trypanosoma gambiens, dan Leishmania. Namun ada juga zooflagellata yang hidup bebas atau bersimbiosis dengan organisme lain, misalnya Trichonympha dan Myxotricha yang hidup didalam usus rayap.

B. Morfogenesis Flagellata

Bentuk tubuh Flagellata sangat beragam, ada yang berbentuk lonjong, menyerupai bola, memanjang, dan polimorfik (memiliki berbagai bentuk morfologi). Hidup secara soliter dan ada yang berkoloni. Koloni Volvox dapat terdiri dari ribuan sel dan diselubungi oleh membrane selulosa. Salah satu spesies Fitoflagellata yang mudah ditemukan dan diamati morfologinya yaitu Euglena viridis. Euglena viridis berbentuk seperti gelendong dengan bagian anterior tubuh tumpul dan bagian posterior meruncing. Struktur tubuh Euglena viridis terlindungi oleh pelikel dan dilengkapi dengan satu flagel yang terletak dibagian anterior. Flagel berfungsi sebagai alat gerak untuk berpindah tempat dan berfungsi untuk mengumpulkan makanan. Pada ujung anterior tubuh juga terdapat celah sempit yang memanjang ke arah posterior dan melebar membentuk kantong cadangan atau reservoir. Pada Euglena terdapat bintik mata atau stigma. Stigma merupakan kumpulan pigmen yang sangat peka terhadap cahaya, sehingga berfungsi sebagai penentu arah gerak aktif yang berhubungan dengan intensitas cahaya di lingkungan. Di dalam sitoplasma terdapat berbagai organel seperti plastida, kloroplas, nukleus, vakuola kontraktil, dan vakuola nonkontraktil. Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis

Euglena berpindah tempat dengan cara rotasi spiral dan euglenoid. Rotasi spiral dengan cara dengan menggunakan flagella, sedangkan cara euglenoid dengan cara mengerutkan tubuh, kemudian membulat dan akhirnya memanjang lagi.

C. Fisiologi Flagellata

Pada umumnya Flagellata membutuhkan suhu optimum antara 16-25°C, sedangkan pH antara pH 6-8. Flagellata memperoleh nutrisi dengan beberapa cara yaitu bersifat holozoik (heterotrof), apabila makanannya berupa organisme lain yang berukuran lebih kecil, bersifat holofilik (autotrof), dapat mensintesis makanannya sendiri dari zat organic yang berasal dari lingkungan karena memiliki kloroplas, bersifat saprofitik, yaitu menggunakan sisa bahan organic dari organisme yang telah mati dan bersifat parasitik dengan cara menempel pada inang untuk mendapat nutrisi.

Fitoflagellata bersifat aerobik fotosintetik, karena sebagian besar spesies ini memiliki kloroplas, sehingga dapat menghasilkan makanannya sendiri melalui proses fotosintesis. Euglena viridis bersifat miksotrof karena dapat menghasilkan makanan sendiri (holofilik) dan mencerna organisme lain (holozoik). Euglena dapat menghasilkan makanan sendiri karena pada lapisan entoplasma terdapat kloroplas yang mengandung klorofil a dan b. Pada keadaan lingkungan cukup cahaya, terjadi fotosintesis yang menghasilkan zat tepung (amilum). Amilum ini disimpan didalam sitoplasma dalam bentuk butir-butir paramilum.

Cara Euglena mendapatkan makanan dengan bantuan flagella. Gerakan flagella yang berombak-ombak menghasilkan aliran air di sekitar mulut, sehingga makanan mengumpul dan terdorong masuk kedalam mulut. Makanan yang masuk kedalam mulut bergerak melewati kerongkongan dan bermuara pada suatu tempat penampungan (reservoir). Kedalam reservoir itu bermuara beberapa vakuola kontraktil kecil. Ketika berisi makanan, vakuola makanan menjadi membesar. Lisosom memberikan enzim ke dalam vakuola makanan untuk mencernakan makanan, kemudian vakuola membesar kembali. Hasil pencernaan makanan didispersikan ke dalam sitoplasma secara pinositosis, dan sisa yang tidak tercerna dikeluarkan dari sel.

Euglena dapat menanggapi rangsang berupa cahaya karena memiliki stigma. Stigma selain berfungsi sebagai reseptor cahaya juga berfungsi sebagai alat pernafasan untuk pembakaran hidrogen yang terkandung di dalam kornel. Karena memiliki membran yang permeabel, oksigen yang berasal dari lingkungan dapat berdifusi masuk melalui membran sel, begitu juga dengan karbondioksida hasil pernafasan akan berdifusi keluar melalui membran sel.

D. Habitat Flagellata

Air merupakan faktor penting keberaan Flagellata selain ketersediaan makanan, pH dan suhu. Flagellata dapat ditemukan di lingkungan air tawar, di danau, sungai, kolam, atau genangan air, misalnya Euglenoida dan Volvocida, maupun air laut, misalnya Dinoflagellata. Spesies zooflagellata sebagian besar bersifat parasit, namun adapula yang bersimbiosis dengan organisme lain, misalnya Myxotrica didalam usus rayap.

E. Reproduksi dan Daur Hidup Flagellata

E.1 Reproduksi Flagellata

Reproduksi pada Flagellata ada 2 macam, yaitu vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif dengan cara pembelahan biner secara longitudinal, misalnya pada Euglena. Secara garis besar proses pembelahan biner terjadi sebagai berikut:

Ø Duplikasi DNA sel induk menjadi 2 set DNA identik.

Ø Pertumbuhan sel menjadi berukuran besar, DNA bergerak kearah berlawanan menuju masing-masing ujung.

Ø Terbentuk septum cincin yang membagi sitoplasma menjadi dua bagian sama besar.

Ø Terbentuk membran sempurna dan dihasilkan 2 sel anakan.

Reproduksi generatif terjadi karena persatuan antara ovum dan spermatozoid, misalnya pada Volvox. Reproduksi secara generatif berfungsi untuk memperkaya variasi genetik, sehingga menghasilkan individu mutan yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan. Pada Volvox terdapat koloni jantan yang menghasilkan sperma dan koloni betina yang menghasilkan ovum, namun ada juga koloni yang bersifat hermafrodit yang dapat menghasilkan sperma serta ovum. Meskipun koloni yang bersifat hermafrodit dapat menghasilkan sperma dan ovum dalam satu koloni, kematangan sperma dan ovum tidak pada saat yang bersamaan, sehingga tidak dapat terjadi pembuahan diri. Ovum dihasilkan oleh oogonium, sedangkan Volvox jantan menghasilkan spermatozoid oleh spermatogonium. Setelah terjadi fertilisasi akan menghasilkan zigot, zigot akan menghasilkan empat spora, yang kemudian akan menjadi individu baru.

E. 2 Daur Hidup Flagellata

Flagellata memiliki tahapan trofozoit dan kista. Pada tahapan trofozoit merupakan waktu aktif untuk mencari makan dan tumbuh. Sedangkan dalam bentuk kista, Flagellata dapat bertahan hidup kondisi yang sulit, seperti terpapar pada suhu yang ekstrem dan bahan kimia berbahaya, atau waktu lama tanpa akses terhadap nutrisi, air, atau oksigen untuk jangka waktu tertentu. Pada Zooflagellata, menjadi bentukan kista memungkinkan untuk bertahan hidup di luar tubuh inang, dan memungkinkan terjadinya transmisi dari satu host ke host yang lain. Proses dimana terjadi perubahan menjadi bentuk kista disebut encystation, sedangkan proses mentransformasikan kembali ke trophozoite disebut excystation.

F. Peranan Flagellata

Flagellata memiliki peranan yang penting dalam lingkungan perairan. Flagellata berperan sebagai predator karena memangsa organisme uniseluler atau ganggang, bakteri, dan microfungi, sehingga populasi organisme dapat dikendalikan. Selain berfungsi sebagai pengendali, Flagellata yang bersifat saprofitik berperan sebagai dekomposer dalam rantai makanan. Di lingkungan perairan flagellata berperan sebagai phytoplankton dan zooplankton sebagai sumber pakan alami ikan dan udang. Euglena viridis dapat digunakan sebagai sumber Protein Sel Tunggal (PST), karena memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Trichonympha dan Myxotricha yang hidup di dalam usus rayap dapat menghasilkan enzim selulosa, sehingga membuat partikel kayu tersebut menjadi lebih lunak dan dapat dicerna rayap.

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan mengenai Flagellata diatas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a) Berdasarkan bentuknya, Flagellata dikelompokkan menjadi Fitoflagellata yang berbentuk seperti tumbuhan dan Zooflagellata yang berbentuk seperti hewan. Fitoflagellata diklasifikasikan menjadi 3 kelas, yaitu Euglenoida, Dinoflagellata dan Volvocida.

b) Secara morfologi, bentuk tubuh Flagellata sangat beragam, ada yang berbentuk lonjong, menyerupai bola, memanjang, dan polimorfik. Hidup soliter atau berkoloni. Bergerak dengan bantuan flagella. Struktur tubuh Flagellata ada yang diselubungi oleh membrane selulosa dan ada yang terlindungi oleh selaput pelikel. Terdapat stigma dan di dalam sitoplasma terdapat berbagai organel seperti plastida, kloroplas, nukleus, vakuola kontraktil, dan vakuola nonkontraktil.

c) Flagellata memperoleh nutrisi dengan beberapa cara yang berbeda, yaitu holozoik (heterotrof), holofilik (autotrof), saprofitik, dan parasitik. Cara Euglena mendapatkan makanan dapat dilakukan dengan melakukan fotosintesis, dan dengan bantuan gerakan flagella. Adapun respirasinya dengan cara difusi dan dengan bantuan stigma pada flagellata yang memiliki stigma.

d) Flagellata ditemukan di lingkungan air tawar, misalnya di danau, sungai, kolam dan genangan air, dan air laut. Ada juga yang hidup bersimbiosis dengan organisme lain dan sebagai parasit pada organisme lain.

e) Flagellata bereproduksi dengan cara vegetatif dan generatif. Memiliki daur hidup antara trofozoit dan kista.

f) Flagellata berperan sebagai biokontrol, dekomposer, zooplankton dan fitoplankton, sebagai sumber Protein Sel Tunggal (PST) dan sebagai penghasil enzim selulose.

21


DAFTAR RUJUKAN

Anne, Frank. Tanpa tahun. Euglena. (Online), (http://www.afg-aktiv.de/euglena.htm, diakses tanggal 10 November 2010)

Anonim. 2010. Euglena viridis.(Online), (http://www.google.co.id/imglanding?q=euglena+viridis, diakses tanggal 10 November 2010)

Haeckel's, Ernst. 1904. Kunstformen der Natur. (Online), (http://wikipedia.org.Flagellata.htm, diakses tanggal 2 Oktober 2010)

Hall, R. P. Tanpa tahun. Protozoology. New York: Prentice-Hall, Inc

Lupita, Dessiana Endang. 2009. Euglenophyta. (Online), (http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/euglenophyta, diakses tanggal 1 Oktober 2010)

Redjeki, Sri. 1999. Budidaya Pakan Alami. Jurnal Osseana volume XXIV, nomor 2 1999: 27-43

Smith. S. E Edited by O. Wallace, 2010. What is Binary Fission?. (Online), (http://www.wisegeek.com/what-is-binary-fission.htm, diakses tanggal 1 Oktober 2010)

Sutanto, Inge, dkk. 2008. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Wahyu, Eko. 2009. Pembelahan Biner. (Online), (http://www.tpb.ipb.ac.id/files/materi/bio100/Materi/p_biner.html, diakses tanggal 2 Oktober 2010)

Wasetiawan. 2010. Protozoa. (Online), (http://blog.unila.ac.id/wasetiawan/files/2010/01/PROTOZOA.pdf, diakses tanggal 2 Oktober 2010)

Wimvan, Egmond. 2003. Volvox, one of the 7 Wonders of the Micro World. (Online), (http://www.microscopy-uk.org.uk/mag/artdec03/volvox.html, diakses tanggal 1 Oktober 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar