all about me

Senin, 14 Maret 2011

ASKARIASIS, PENYAKIT CACING YANG PERLU DIWASPADAI!


Infeksi cacing usus di daerah tropis, seperti Indonesia masih merupakan penyakit rakyat dengan prevalensi cukup tinggi. Masyarakat pedesaan atau perkotaan yang padat dan kumuh merupakan sasaran yang mudah terkena infeksi cacing. Beberapa spesies Nematoda usus yang penularannya melalui tanah (Soil Transmitted Helminths) diantaranya adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus, dan Trichuris trichiura.
Ascaris lumbricoides merupakan spesies cacing parasit yang kosmopolit yaitu tersebar di seluruh dunia dengan prevalensi infeksi tertinggi pada negara beriklim panas dan lembab. Manusia merupakan hospes definitif Ascaris lumbricoides. Infeksi yang disebabkan oleh cacing ini disebut Askariasis. Prevalensi infeksi pada anak lebih tinggi daripada orang dewasa, karena mereka belum mengerti arti kesehatan.
Siklus hidup Ascaris lumbricoides dimulai apabila telur cacing infektif tertelan manusia. Telur menetas menjadi larva rhabditiform dan kemudian menembus dinding usus dan masuk kedalam vena portae hati, mengikuti aliran darah masuk ke jantung kanan dan selanjutnya menuju paru-paru. Larva tumbuh dan berganti kulit sebanyak 2 kali di dalam paru-paru. Lava migrasi dari paru-paru keluar kapiler, masuk ke alveolus kemudian ke bronkus, trakhea, laring ke faring, berpindah ke esophagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglotis masuk kedalam traktus digestivus dan berakhir di usus halus bagian atas, larva berganti kulit menjadi cacing dewasa. Cacing betina dewasa mampu menghasilkan telur sebanyak 200.000 – 250.000 butir telur setiap harinya, waktu yang diperlukan adalah 3 4 minggu untuk telur tumbuh menjadi bentuk infektif. Telur cacing keluar dari tubuh inang bersama tinja penderita Askariasis.
Penularan Askariasis terjadi apabila telur infektif masuk kedalam tubuh. Telur infektif dapat masuk kedalam tubuh melalui beberapa media, yaitu melalui debu, tanah, air, dan tanaman. Debu dan tanah dapat menjadi media penularan Askariasis karena kebiasaan masyarakat membuang kotoran/ tinja sembarangan. Telur yang keluar bersama tinja tahan terhadap pengaruh cuaca buruk, berbagai desinfektan dan dapat tetap hidup bertahun-tahun di tempat yang lembab. Kebiasaan bermain tanah dan tidak mencuci tangan sampai bersih menyebabkan telur infektif tertelan bersama makanan. Air menjadi media penularan Askariasis karena kebiasaan masyarakat yang tinggal disepanjang pinggir sungai membuang tinja di sungai. Telur berpindah bersama aliran sungai menuju tempat lain dan menginfeksi masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya untuk masak, mencuci, dan mandi. Tanaman dapat menjadi media penularan Askarasis karena tempat penanaman di sepanjang aliran sungai atau menggunakan air sungai untuk menyiram tanaman. Kebiasaan mengkonsumsi sayur mentah merupakan media efektif penularan Askariasis, misalnya sebagai lalapan.
Gejala awal infeksi Ascaris lumbricoides biasanya ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan konstipasi. Stadium infeksi meningkat sesuai dengan jumlah cacing didalam saluran pencernaan. Hiperinfeksi terutama pada anak menyebabkan kurang gizi (Mal absorbtion). Cacing dewasa dapat menyebabkan alergi, karena cacing mengeluarkan cairan tubuh sehingga terjadi reaksi toksik dalam tubuh inang. Beberapa tanda alergi seperti urtikaria, odema, konjungtivitis, dan iritasi pernafasan. Kelainan akibat migrasi larva dapat menyebabkan Sindroma loeffler yaitu perdarahan pada dinding paru-paru. Akibat mekanik yang ditimbulkan oleh cacing dewasa seperti obstruksi usus dan perforasi ulkus di usus. Gumpalan cacing yang membentuk bolus menyebabkan penyumbatan pada usus (Ileus obstructive).
Upaya pencegahan Askariasis dapat dilakukan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik dan tepat guna. Beberapa tindakan sanitasi yang harus dilakukan yaitu membuang tinja di jamban, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman, membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, mengurangi konsumsi sayur mentah sebagai lalapan, dan memeriksakan diri setiap 6 bulan sekali. Pengobatan Askariasis dapat menggunakan Preparat piperasin, Pyrantel pamoate, Albendazole atau Mebendazole.

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..

    BalasHapus